Published On: Mon, Dec 28th, 2015

Cegah Penyadapan, Korea Utara Kembangkan OS Red Star

red star

Sistem operasi Red Star yang dikembangkan oleh Korea Utara (Korut) kini mulai mengundang banyak perhatian. Masyarakat awam pada umumnya masih berasumsi bahwa pengembangan OS Red Star tidak terlepas dari idealisme kuat Korut untuk mempunyai sistem operasi sendiri. Alasan politik tingkat tinggi masih menjadi alasan dasar pengembangan sistem operasi tersebut. Namun pada sebuah konferensi di Hamburg, ada alasan lain mengapa Korut begitu mengagungkan Red Star.

Pemerintah Korut membangun sistem operasi sendiri karena paranoid terhadap penyadapan via Internet yang kini dilakukan oleh negara Barat. Sebelum peristiwa spionase cyber NSA terbongkar, Korut telah lebih dulu berkeinginan mempunyai sistem operasi komputer sendiri. Red Star dibangun di atas platform Linux bernama Fedora dan graphical user interface (GUI) dibuat hampir menyerupai OS Mac.

Menurut para pengamat di konferensi tersebut, kode sistem operasi Red Star dibuat serumit mungkin untuk menghindari penyusupan dari pihak luar. Florian Grunow, pakar keamanan dari Jerman mengatakan bahwa Red Star mempunyai keunikan tersendiri. “Ketika ada intersepsi dari luar seperti menonaktifkan anti virus atau perangkat keamanan lainnya, komputer secara otomatis akan reboot,” kata Grunow. Pemerintahan Kim Jong Un berusaha semaksimal mungkin agar Red Star tidak bisa dipenetrasi.

Di satu sisi Grunow menjelaskan bahwa ada ironi tersendiri di balik pengembangan Red Star. “Pemerintah Korut sebisa mungkin menjaga keamanan negaranya dari aktivitas spionase. Tetapi, Red Star diperuntukkan juga mengawasi lalu lintas Intranet di negaranya,” ujar Grunow. Ia mengatakan bahwa pertukaran informasi sangat dibatasi di Korea Utara. “Bahkan pertukaran video musik atau film di kalangan rakyatnya adalah hal ilegal,” tambah Grunow.

Untuk memastikan negaranya aman, pemerintah Korut melalui Red Star memonitor setiap aktivitas Intranet. Selain itu, sistem operasi ini dilengkapi pula kemampuan untuk mengidentifikasi keaslian sebuah data. “Red Star mempunyai kelebihan khusus. Setiap data yang di-input via USB akan terlacak dari negara mana data tersebut berasal,” papar Grunow. Ia melanjutkan bahwa setiap data yang berasal dari negara rival Korut dianggap melanggar hukum dan masyarakat yang melakukannya akan dijatuhi hukuman.

Comments

comments

About the Author

Iqbal Ramadhan

- Have a strong passion in security and social studies, journalism and public speaking. Used to be a former student of UNPAD IR Studies. Married man and father of a son. Love his hometown, City of Flower.

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>