Published On: Thu, Feb 4th, 2016

NASA Sangkal Drone Mahalnya Diretas

NASA

Lembaga antariksa AS, NASA, menyangkal klaim kelompok hacker AnonSec yang mengatakan bahwa mereka berhasil meretas drone seharga 200 juta dolar AS. Beberapa waktu lalu, AnonSec mempublikasikan 276 GB data yang berisikan 2.400 pegawai NASA beserta akun email dan password-nya. Mereka pun membuat sebuah statement bahwa drone milik NASA berhasil diambil alih dan AnonSec berencana untuk menjatuhkannya di Samudera Pasifik. Alih-alih menjatuhkannya, AnonSec justru mengatakan bahwa mereka ingin mencoba lebih jauh teknologi drone NASA.

Menanggapi klaim AnonSec, NASA langsung membuat pernyataan klarifikasi. Dalam pernyataan resminya, NASA menjelaskan bahwa drone yang diberi nama Global Hawk tersebut masih dalam kendali penuh mereka. NASA menyangkal pula berbagai data yang dipublikasikan oleh AnonSec termasuk foto yang diambil dari drone dan log perjalanan pesawat. “Kendali atas Global Hawk tidak diambil alih. NASA paham betul tentang pentingnya keamanan cyber. Kami akan menginvestigasi klaim tersebut,” tegas NASA dalam pernyataan resminya.

AnonSec membeberkan pula cara bagaimana mereka bisa masuk ke dalam sistem kontrol drone NASA. Menurut mereka, AnonSec berhasil mengambil alih kontrol drone untuk sementara waktu sebelum akhirnya NASA mengetahui bahwa sistem mereka disusupi. Dengan melakukan transaksi anonimus menggunakan BitCoin, AnonSec berhasil mendapatkan akses khusus ke dalam sistem kontrol NASA. Hingga pada akhirnya, AnonSec dapat menemukan akses langsung ke sistem drone tersebut.

Ini bukan yang pertama kalinya NASA diretas. Pada tahun 2012, Inspektur Jenderal Paul K. Martin mengatakan pada Kongres AS bahwa 48 komputer mereka rusak akibat serangan cyber. Martin mengatakan bahwa satu di antara 48 komputer yang rusak tersebut berisikan algoritma khusus yang mengatur sistem kendali satelit di luar angkasa.

Isu peretasan drone memang sedang menjadi trending topic. Terlebih ketika drone milik Department Homeland Security (DHS) berhasil diretas kartel narkoba Meksiko agar jalur transaksi obat bius tidak terdeteksi. Menurut Dr. Yudi S.Gondokaryono dari ITB mengatakan bahwa setiap informasi yang disimpan dalam drone dikirimkan secara jarak jauh dan yang terkirim pada operator haruslah terenkripsi dengan baik.

“Sehingga sistem pengiriman informasi antara drone dan operator harus mengacu pada tata kelola manajemen keamanan informasi,” ungkap Yudi. Ada kekhawatiran tersendiri jika keamanan informasi dalam teknologi drone tidak mendapatkan perhatian secara lebih lanjut. Risiko yang berpotensi terjadi bisa berupa kebocoran informasi penting, melakukan interception pada jalur komunikasi dan pada tingkat yang lebih ekstrim, drone dapat dibajak melalui teknologi remote. “Penggabungan teknologi robotik dan sistem keamanan informasi akan membuat teknologi drone jauh lebih baik.”, ujar Yudi.

Comments

comments

About the Author

Iqbal Ramadhan

- Have a strong passion in security and social studies, journalism and public speaking. Used to be a former student of UNPAD IR Studies. Married man and father of a son. Love his hometown, City of Flower.

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>